London - Musim lalu Andre Villas-Boas nyaris meloloskan
Tottenham Hotspur ke zona Liga Champions. Musim ini, setelah punya
skuat yang lebih mentereng, ia malah didepak lebih cepat.
Di awal musim ini Tottenham diyakini akan menjadi penantang serius tim-tim langganan juara di Premier League. Ini tak lain karena mereka memborong banyak pemain top di bursa transfer musim panas.
Total Spurs mengeluarkan dana sekitar 100 juta poundsterling untuk melabuhkan sedikitnya 8 pemain baru di White Hart Lane, di antaranya Roberto Soldado, Paulinho, Erik Lamela, dan Christian Eriksen. Kepindahan Gareth Bale ke Real Madrid pun relatif "dilupakan".
Dengan skuat penuh bintang Tottenham mengawali kompetisi dengan cukup baik. Dari 5 pertandingan pertamanya mereka hanya satu kali kehilangan angka dan meraih empat kemenangan. Tapi setelah itu performa mereka menurun. Dalam 8 partai Michael Dawson dkk. hanya menang dua kali.
Walaupun sempat mengalahkan Fulham dan Sunderland di pekan ke-14 dan 15, kekalahan kembali diderita Spurs. Hari Minggu (15/12/2013) kemarin, di kandangnya sendiri mereka digasak 0-5 oleh Liverpool.
Tak sampai 24 jam kemudian direksi klub mengumumkan sebuah keputusan. Andre Villas-Boas tidak akan melanjutkan pekerjaannya sebagai manajer, alias dipecat.
Pria Portugal itu sesungguhnya menuai hasil yang sangat baik di musim lalu, ketika membawa tim London Utara itu finis di peringkat kelima. Tottenham bahkan nyaris lolos ke Liga Champions kalau saja bisa menjaga konsistensi permainannya di pekan-pekan terakhir.
Di awal musim ini Tottenham diyakini akan menjadi penantang serius tim-tim langganan juara di Premier League. Ini tak lain karena mereka memborong banyak pemain top di bursa transfer musim panas.
Total Spurs mengeluarkan dana sekitar 100 juta poundsterling untuk melabuhkan sedikitnya 8 pemain baru di White Hart Lane, di antaranya Roberto Soldado, Paulinho, Erik Lamela, dan Christian Eriksen. Kepindahan Gareth Bale ke Real Madrid pun relatif "dilupakan".
Dengan skuat penuh bintang Tottenham mengawali kompetisi dengan cukup baik. Dari 5 pertandingan pertamanya mereka hanya satu kali kehilangan angka dan meraih empat kemenangan. Tapi setelah itu performa mereka menurun. Dalam 8 partai Michael Dawson dkk. hanya menang dua kali.
Walaupun sempat mengalahkan Fulham dan Sunderland di pekan ke-14 dan 15, kekalahan kembali diderita Spurs. Hari Minggu (15/12/2013) kemarin, di kandangnya sendiri mereka digasak 0-5 oleh Liverpool.
Tak sampai 24 jam kemudian direksi klub mengumumkan sebuah keputusan. Andre Villas-Boas tidak akan melanjutkan pekerjaannya sebagai manajer, alias dipecat.
Pria Portugal itu sesungguhnya menuai hasil yang sangat baik di musim lalu, ketika membawa tim London Utara itu finis di peringkat kelima. Tottenham bahkan nyaris lolos ke Liga Champions kalau saja bisa menjaga konsistensi permainannya di pekan-pekan terakhir.
AVB dinilai sukses di musim pertamanya bersama Spurs. Ia juga diyakini
sudah lebih siap dan telah belajar banyak dari kegagalannya di Chelsea,
ketika ia hanya bertahan tujuh bulan di klub penuh bintang itu, sebelum
dipecat pada awal Maret 2012.
Strategi bisnis bos besar Spurs, Daniel Levy, di musim panas lalu seakan-akan menjadi "reward" tersendiri untuk Villas-Boas. Dari situ ia diberi dana berlimpah untuk membeli pemain-pemain baru.
Ironisnya, setelah pasukannya bertambah glamor, AVB tak mampu meramunya dengan maksimal. Permainan Spurs tidak istimewa. Ia juga seperti kebingungan dalam menentukan komposisi terbaiknya terutama di lini tengah, lantaran di sana bertumpuk sejumlah pemain bagus.
Faktanya, dari 16 pertandingan di liga mereka hanya bisa mencetak 15 gol, alias tidak genap satu gol per partai. Sudah begitu, jumlah kemasukan mereka pun lebih besar, yakni 21 gol.
Indikator lain yang menunjukkan Spurs kurang kompetitif adalah mereka tidak bisa menang atas tim-tim elite. Mereka kalah 0-1 dari Arsenal di Emirates dan cuma bermain 1-1 melawan Chelsea di White Hart Lane.
Yang paling memalukan adalah ketika Tottenham dilumat Manchester City 0-6 di Etihad Stadium pada 24 November. Dan setelah seri 2-2 dengan Manchester United, mereka kembali kalah telak, 0-5 dari Liverpool.
Apa hendak dikata, pria 36 tahun yang pernah pula menukangi FC Porto itu harus kehilangan pekerjaannya di hari-hari menjelang Natal.
Pemecatan AVB ini, bagaimana menurut Anda?
Strategi bisnis bos besar Spurs, Daniel Levy, di musim panas lalu seakan-akan menjadi "reward" tersendiri untuk Villas-Boas. Dari situ ia diberi dana berlimpah untuk membeli pemain-pemain baru.
Ironisnya, setelah pasukannya bertambah glamor, AVB tak mampu meramunya dengan maksimal. Permainan Spurs tidak istimewa. Ia juga seperti kebingungan dalam menentukan komposisi terbaiknya terutama di lini tengah, lantaran di sana bertumpuk sejumlah pemain bagus.
Faktanya, dari 16 pertandingan di liga mereka hanya bisa mencetak 15 gol, alias tidak genap satu gol per partai. Sudah begitu, jumlah kemasukan mereka pun lebih besar, yakni 21 gol.
Indikator lain yang menunjukkan Spurs kurang kompetitif adalah mereka tidak bisa menang atas tim-tim elite. Mereka kalah 0-1 dari Arsenal di Emirates dan cuma bermain 1-1 melawan Chelsea di White Hart Lane.
Yang paling memalukan adalah ketika Tottenham dilumat Manchester City 0-6 di Etihad Stadium pada 24 November. Dan setelah seri 2-2 dengan Manchester United, mereka kembali kalah telak, 0-5 dari Liverpool.
Apa hendak dikata, pria 36 tahun yang pernah pula menukangi FC Porto itu harus kehilangan pekerjaannya di hari-hari menjelang Natal.
Pemecatan AVB ini, bagaimana menurut Anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar